Bulu tangkis sering kali digambarkan sebagai tarian di atas papan catur, di mana setiap langkah harus diperhitungkan dengan akurasi matematis yang tinggi. Di Sumatera Barat, para pelatih PBSI Sumbar mengembangkan sebuah kurikulum pelatihan yang membedah setiap jengkal area pertandingan melalui kacamata Geometri Lapangan. Memahami sudut, jarak tercepat, dan titik pusat gravitasi bukan lagi sekadar teori di buku sekolah, melainkan menjadi rahasia di balik kelincahan gerak para atlet muda dalam menutup setiap sudut lapangan. Dengan penguasaan ruang yang benar, seorang pemain tidak perlu berlari lebih banyak, melainkan berlari dengan lebih cerdas.
Prinsip utama yang diajarkan adalah pemanfaatan titik tengah sebagai poros utama pergerakan. Dalam analisis ruang, lapangan bulu tangkis adalah sebuah bidang persegi panjang yang dibagi oleh garis-garis imajiner yang menentukan efisiensi langkah. Para atlet di tingkat provinsi ini dilatih untuk selalu kembali ke “pusat geometri” setelah melakukan pukulan, guna meminimalkan jarak tempuh menuju arah manapun kok akan datang selanjutnya. Teknik footwork yang dikembangkan didasarkan pada perhitungan langkah efisien, seperti penggunaan langkah silang atau langkah geser yang mengikuti diagonal bidang. Hal ini sangat efektif untuk menghemat energi selama pertandingan format tiga gim yang menguras tenaga.
Pelatih di Sumbar menekankan bahwa kaki adalah mesin utama, namun otaklah yang menjadi navigatornya. Dengan memahami sudut pantul dan lintasan parabola kok, seorang atlet dapat memprediksi posisi jatuhnya kok lebih awal. Pemahaman geometri ini membantu pemain dalam memposisikan tubuh pada sudut yang paling menguntungkan untuk melakukan serangan balik. Misalnya, saat menerima smes, pemain diajarkan untuk menjaga posisi kaki sedemikian rupa sehingga menciptakan basis dukungan yang lebar, memungkinkan mereka untuk melakukan dorongan eksplosif ke arah depan atau samping dengan hambatan inersia yang minimal.
Selain penguasaan teknis, latihan ini juga melibatkan visualisasi spasial. Atlet diminta untuk memetakan lapangan dalam pikiran mereka, mengidentifikasi “zona mati” di mana lawan seringkali gagal mengantisipasi bola. Dengan penguasaan rahasia ruang ini, pemain dari Sumatera Barat dikenal memiliki pertahanan yang sangat rapat dan serangan balik yang mematikan dari sudut-sudut yang tidak terduga. Mereka tidak sekadar mengandalkan kecepatan lari, tetapi pada pemilihan rute tercepat untuk mencapai bola. Efisiensi inilah yang membuat mereka tetap terlihat bugar di poin-poin kritis pertandingan, sementara lawan mulai kelelahan karena banyak melakukan langkah yang tidak perlu.