Prioritas adalah kata kunci pertama yang harus ditanamkan dalam benak setiap siswa yang juga berstatus sebagai Atlet vs Sekolah. Mengatur jadwal bulanan yang mencakup waktu latihan, jam sekolah, hingga waktu istirahat sangatlah penting. Seorang pemain harus mampu membagi fokusnya secara total pada apa yang sedang dikerjakan saat itu. Ketika berada di sekolah, fokuslah 100% pada pelajaran tanpa memikirkan raket. Begitupun sebaliknya, saat masuk ke lapangan, urusan tugas sekolah harus ditinggalkan sejenak agar latihan memberikan hasil yang maksimal. Tanpa pembatasan fokus yang jelas, keduanya akan berjalan setengah-setengah dan tidak memuaskan.
Komunikasi antara orang tua, pelatih, dan pihak sekolah merupakan fondasi pendukung yang sangat kuat. Di wilayah Sumatera Barat, banyak sekolah yang mulai memberikan dispensasi bagi siswa berprestasi untuk mengikuti turnamen tertentu. Namun, dispensasi ini bukan berarti bebas dari tanggung jawab akademis. Seorang siswa harus proaktif dalam menanyakan tugas-tugas yang tertinggal atau meminta sesi tutorial tambahan di luar jam sekolah. Membangun hubungan yang baik dengan guru akan membuat mereka lebih memahami tuntutan fisik yang Anda jalani sebagai seorang calon juara di dunia olahraga.
Pemanfaatan waktu luang yang sering terbuang juga harus dioptimalkan. Misalnya, waktu perjalanan menuju tempat latihan atau saat menunggu giliran bermain bisa digunakan untuk membaca materi pelajaran atau mengerjakan tugas ringan. Meskipun terlihat sederhana, akumulasi dari waktu-waktu kecil ini sangat berpengaruh pada beban kerja di malam hari. Tidur yang cukup tetap menjadi kebutuhan primer yang tidak boleh dikorbankan demi belajar hingga larut malam, karena tubuh atlet membutuhkan regenerasi sel yang optimal untuk menghindari kelelahan kronis yang berujung pada cedera atau penurunan performa.
Selain itu, dukungan mental dari keluarga sangat berperan dalam menjaga motivasi. Orang tua tidak seharusnya memberikan beban ganda yang terlalu berat tanpa memberikan solusi. Melalui diskusi rutin yang difasilitasi oleh tips dari para senior di PBSI Sumbar, diharapkan tercipta lingkungan yang mendukung perkembangan mental anak secara utuh. Atlet yang merasa didukung di kedua sisi—akademis dan olahraga—cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan kepercayaan diri yang lebih tinggi saat bertanding.