Penyebab utama mengapa bahu sering nyeri saat melakukan smash berkaitan erat dengan mekanisme sendi peluru yang ada di bahu manusia. Sendi bahu adalah sendi yang paling fleksibel namun juga yang paling tidak stabil di tubuh kita. Saat seseorang melakukan ayunan smash, lengan atas berputar dengan kecepatan sangat tinggi dan berhenti secara mendadak setelah mengenai shuttlecock. Jika otot-otot di sekitar bahu, terutama rotator cuff, tidak cukup kuat untuk menstabilkan sendi tersebut, maka gesekan berlebih akan terjadi pada tendon dan bursa, yang memicu peradangan.
Dalam banyak kasus yang ditemui oleh para pelatih di Sumbar, masalah ini sering kali berakar pada teknik yang salah, atau yang sering disebut sebagai “smash hanya menggunakan tenaga tangan”. Pemain yang belum berpengalaman cenderung memaksakan kekuatan pada otot bahu saja, tanpa melibatkan rotasi pinggul dan dorongan otot inti (core). Padahal, tenaga smash yang sehat seharusnya berasal dari rantai kinetik yang dimulai dari kaki, naik ke pinggang, lalu disalurkan melalui bahu ke pergelangan tangan. Jika rantai ini terputus, maka bahu harus menanggung beban kerja yang seharusnya dibagi ke seluruh tubuh.
Selain faktor teknik, PBSI Sumbar juga menyoroti masalah ketidakseimbangan otot. Banyak pemain terlalu fokus melatih otot dada dan bahu depan agar pukulan terasa kencang, namun mengabaikan otot punggung atas dan bahu belakang. Akibatnya, posisi bahu cenderung tertarik ke depan (rounded shoulders), yang mempersempit ruang gerak sendi bahu. Ketika pemain tersebut melakukan gerakan overhead (di atas kepala) seperti smash, terjadi jepitan pada jaringan lunak di dalam bahu, sebuah kondisi yang dalam dunia medis dikenal sebagai impingement syndrome.
Pencegahan adalah solusi terbaik sebelum nyeri tersebut berkembang menjadi robekan tendon yang serius. Tim pelatih menyarankan latihan penguatan spesifik untuk otot rotator cuff menggunakan alat sederhana seperti elastic band atau resistance band. Latihan ini bertujuan untuk memastikan bahwa “jangkar” bahu tetap stabil saat lengan melakukan gerakan eksplosif. Selain itu, pemanasan yang menyasar mobilitas sendi bahu harus dilakukan dengan durasi yang cukup. Gerakan memutar bahu secara perlahan dan dinamis akan melancarkan aliran cairan sinovial yang berfungsi sebagai pelumas alami sendi.